Selamat Datang! Rahajeng Rauh! Dominus Vobis Cum!

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69.
Semoga Tuhan Yang Mahakuasa selalu meraja di Indonesia.


Kami mengucapkan Selamat Datang di website Paroki Tuka Dot Com, yang didedikasikan bagi Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka. Melalui media ini kami ingin menyampaikan segala informasi mengenai kehidupan Paroki Tuka dan Dusun Tuka sendiri dengan keistimewaannya sebagai pintu masuk bagi Gereja Katolik di pulau Bali tercinta ini. Dan melalui media ini juga kami ingin berbagi rasa dengan anda semua.

Tuka berasal dari kata bahasa Bali yakni 'tuuk' yang artinya 'melabrak', 'menembus'. 'Tuuka' berarti 'ditabrak' atau 'ditembus'. Pekerjaan orang yang membuka hutan atau wilayah baru disebut 'nuka'. Jadi, secara etimologi Tuka berarti 'merintis' atau 'berjuang untuk mengusahakan sesuatu untuk hidup yang baru'. Kemudian kata turunan dari 'nuuk' yakni 'nuukin' berarti memanjakan dengan berbagai pemberian tak terbatas.

Tuka adalah desa pertama di Bali yang membuka diri terhadap ajaran Kristen Katolik. Ini diawali pada 6 Juni 1936 oleh I Made Bronong dan I Wayan Dibloeg, dua orang asli Bali yang terpanggil dan menyerahkan diri secara penuh ke dalam pangkuan kasih Yesus Kristus dalam persekutuan Gereja Katolik. Sesungguhnya mereka adalah 2 dari 12 orang Bali pertama yang dibaptis Kristen pada 11 November 1931 di Tukad Yeh Poh, Dalung, dipimpin oleh I Made Gepek (terkenal dipanggil Pan Luh Ting), seorang tokoh adat dari Buduk (konon beliau itu seorang balian sakti). Perlahan-lahan Pasamuan Katolik itu kian berkembang meliputi hampir semua wilayah di Bali, diikuti oleh semakin banyak orang Bali yang berasal dari berbagai soroh wangsa: ada soroh Bendesa Manik Mas, Pasek, Dukuh, Pande Wesi dan kalangan Arya. Salah satu yang paling terkenal adalah Ida Tjokorda Yohanes Maria Gede Oka Sudharsana dari Puri Ubud. Sebelum itu, beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki semangat yang sangat tidak simpatik dengan gereja Katolik. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat di bunga rampai Sejarah Gereja Katolik Di Tuka.

Betapapun kami telah mengikuti iman Katolik, tetapi Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, menginginkan kami untuk hidup dalam kebudayaan kami sebagai orang Bali. Jadi, kami mengimani Kristus dalam kehidupan kami sehari-hari sebagai orang Bali tulen. Sebagai orang Bali yang utuh, kami merasa bangga bahwa kami boleh menjadi bagian dari Gereja Katolik yang mendunia itu dan kami juga bangga bahwa warna Bali kini ikut meramaikan citarasa 'gebogan' umat Katolik sedunia. Bagaikan sebuah 'gebogan' yakni kesatuan aneka warna dalam harmoni yang indah, Gereja Katolik mengayomi berbagai wajah, warna dan bahasa dalam satu struktur wadah kegembalaan yang penuh kasih. Tentu saja kami ingin membagi perasaan bahagia ini dengan anda semua.

Kami percaya Kristus datang untuk membebaskan kita semua dari penjajahan pikiran, membebaskan kita dari kungkungan dosa dan kekuatan kegelapan, menjauhkan kita dari kegelisahan dan ketakutan, mengajarkan kita bagaimana hidup dalam kasih Allah yang sejati, menyelamatkan kita dari segala beban, bahkan termasuk beban ekonomi. Dan melalui wafat kesengsaraanNya serta kebangkitanNya dari alam maut, Kristus mengembalikan kurnia kebebasan yang diberikanNya sejak manusia diciptakanNya. Kini kami disadarkan bahwa sesungguhnya Tuhan benar-benar nuukin - memanjakan - kita semua dengan berbagai rahmat kasih yang luar biasa. Jika anda tertarik untuk ikut belajar merasakan belaian kasih Tuhan yang sering tidak kita sadari, silahkan hubungi kami melalui Sekretariat kami. Mari kita saling berpegangan tangan dalam senyuman dan saling membantu dalam kasih yang tulus.

Selamat menyelami getaran kasih Kristus di dalam jiwa sanubari anda semua.

Website Administrator

Sarapan Pagi Ini: Pengkotbah 7:3-6

Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria. Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh. Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Inipun sia-sia.
Copyrights © 2011 Administrator Paroki Tuka Dot Com • Bali • Indonesia