Sejarah Devosi Jalan Salib

kristus sengsara dan wafat demi manusia

Pada masa puasa setiap tahun kita pasti diundang untuk mengikuti upacara Jalan Salib paling tidak sekali seminggu. Kita pun dengan tekun dan tapakur mengikuti upacara suci itu. Perjalanan perhentian/stasi salib itu disusun mengikuti kisah sengsara Tuhan Yesus sesuai dengan kisah Kitab Suci dan ditambah beberapa adegan mengikuti dogma dan tradisi Gereja Katolik. Inilah salah satu devosi penting dalam tradisi Katolik untuk mengenang kembali perbuatan Yesus yang menyelamatkan. Karena alasan ini, maka setiap gedung Gereja Katolik memiliki gambar atau lukisan yang mengkisahkan berbagai macam keadaan atau perhentian dalam Sengsara dan Wafat Yesus. Tetapi bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya upacara suci itu? Sangat mungkin banyak dari antara kita belum mengetahuinya.

Umat Kristen pada abad pertama sangat menghormati tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan, karya, dan wafat Tuhan Yesus. Mereka mendirikan kapel/gereja atau meletakkan batu khusus di tempat-tempat peristiwa itu terjadi. Menurut sebuat catatan naskah kuno dari abad IV di Syria, Bunda Maria selalu sendiri mengunjungi tempat-tempat itu untuk mengenang kisah sengsara Sang Putra tercinta.

Umat Kristen perdana tinggal di kota Yerusalem hingga kira-kira tahun 70M – sekitar 37 tahun setelah wafat Kristus. Menjelang serangan tentara Romawi terhadap bangsa Yahudi, mereka melarikan diri. Sebagaimana telah diramalkan, akibat serangan Roma itu, Yerusalem dengan Bait Sucinya pun hancur lebur. 65 tahun setelah serangan pertama kekaisaran Romawi kembali melancarkan serangan kedua yang lebih dahsyat sekitar tahu 135M. Serangan ini semakin meluluhlantakkan Yerusalem. Di atas puing-puing Yerusalem lama itu, bangsa Roma mendirikan sebuah kota baru dengan beberapa kuil untuk dewa-dewi mereka.

Pada masa itu semua orang Yahudi diusir dari Yerusalem dan dilarang berdiam di sana lagi. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka semua pergi mengembara ke seluruh ujung bumi. Semua orang Yahudi yang beriman Kristen pun terpaksa ikut meninggalkan kota itu. Mereka mengungsi ke berbagai negara tetangga.

Setelah berbagai penindasan dan penyiksaan, nasib semua orang Kristen di wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi menjadi lebih baik pada awal abad IV setelah Konstantinus menjadi Kaisar Roma. Dia adalah penguasa Romawi pertama yang berani mendukung umat Kristen. Ia memerintahkan bawahannya untuk mendirikan gereja yang indah di tempat Yesus pernah disalibkan dan dimakamkan. Gereja itu dikonsekrasikan pada tahun 335M dan dipandang sebagai gereja terindah di bumi zaman itu.

Tidak lama sesudahnya, kota Yerusalem dan tempat-tempat yang dikuduskan oleh Yesus, Maria (Bunda Yesus), dan para rasul mulai diziarahi oleh umat Kristen. Pada hari Kamis Putih, para peziarah dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem berkumpul di Taman Zaitun. Kemudian, mereka secara bersama-sama mengenang sengsara Yesus dengan menyusuri jalan dari Taman Getsemani hingga Bukit Golgota. Inilah catatan pertama tentang awal devosi yang kini dikenal sebagai Jalan Salib.

Mula-mula tidak ada perhentian-perhentian Jalan Salib seperti sekarang. Rute yang ditempuh dalam rangka Jalan Salib berubah dari waktu ke waktu. Malahan, masing-masing kelompok umat menawarkan sejumlah perhentian berbeda dan menetapkannya pada lokasi yang berbeda pula. Pada abad XI – XIII, demi merebut tempat-tempat suci dari tangan bangsa asing yang menduduki Tanah Suci, umat Kristen melancarkan serangkaian perang yang dikenal dengan nama Crusade atau Perang Salib. Sejak itulah mulai ditunjuk sejumlah tempat yang berhubungan dengan Jalan Salib, antara lain Pintu Gerbang yang dilalui Yesus pada saat Ia keluar dari Yerusalem menuju Golgota, istana Herodes, tempat Pilatus mengadili Yesus, tempat Yesus disalibkan, lubang tempat berdirinya salib Yesus, lokasi makam Yesus, tempat Yesus menyapa perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisi-Nya, tempat Yesus berjumpa dengan bunda-Nya, tempat Veronika mengusap wajah Yesus.

Sejak tahun 1320 Ordo Fransiskan (OFM) diangkat sebagai ordo yang secara resmi wajib melindungi semua tempat suci di Tanah Suci. Sejak itu OFM rajin mempopulerkan devosi Jalan Salib, lebih-lebih karena St. Fransiskus Asisi (pendiri Ordo Fransiskan) mendapatkan anugerah stigmata. Lewat 2 devosinya, yaitu: Inkarnasi Yesus dan Sengsara Yesus yang masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib. Devosi ini kemudian merebak ke setiap Gereja dengan membuat pemberhentian-pemberhentian kecil di dalam Gereja. Para Rahib Fransiskan juga menciptakan lirik Stabat Mater yang sampai kini selalu dinyanyikan untuk mengiringi upacara Jalan Salib. Lirik ini telah tersebar dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Para biarawan Fransiskan mulai menetapkan nama dan tempat perhentian pada Jalan Salib. Mereka biasa memulai kebaktian Jalan Salib di Bukit Golgota dan mengakhirinya di istana yang dulu ditempati oleh Pilatus. Jumlah perhentiannya agak banyak. Dulu ada perhentian di tempat Yesus dicambuk, Yesus dimahkotai duri, Yesus diperlihatkan kepada rakyat oleh Pilatus (Ecce Homo), dan lain-lain. Kemudian sejak abad XVI rute Jalan Salib dibalik sehingga Gereja Makam Suci di Golgota menjadi perhentian yang terakhir. Kemudian Paus Clement XII (1730-1740) menetapkan 14 pemberhentian/stasi pada Jalan Salib. Dan ke-14 pemberhentian inilah yang sampai kini diterapkan oleh Umat Katolik.

Sampai sekarang devosi Jalan Salib menjadi salah satu kebaktian utama para peziarah di Tanah Suci. Kebaktian itu diadakan di jalan-jalan Yerusalem yang sangat ramai dari dulu hingga sekarang. Keadaan semakin ramai sejak negara Israel terbentuk. Oleh karena itu, kebanyakan peziarah memilih untuk melakukan Jalan Salib ketika masih sangat pagi agar terhindar dari berbagai gangguan pada jam-jam ramai.

Ibadat Jalan Salib juga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat-tempat peziarahan katolik, misalnya Gua Maria atau Gereja. Jarak antar perhentian dimodifikasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat peziarahan. Tetapi yang terpenting dalam melakukan setiap ziarah dan/atau jalan salib adalah kesadaran bahwa hidup kita di dunia inipun adalah sebuah peziarahan, sebuah perjalanan menuju Tuhan, maka Tuhanlah seharusnya yang menjadi tujuan dari setiap kegiatan/karya dalam peziarahan ini, dalam kesadaran itu pula dibangun semangat untuk peduli pada sesama teman sepeziarahan di dunia ini.

Copyrights © 2011 Administrator Paroki Tuka Dot Com • Bali • Indonesia