BERJALAN BERSAMA MELAYANI DENGAN HATI

Rekoleksi Prodiakon Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka

ide

12/21/20234 min read

Senin (18/12/2023) para Prodiakon Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka mengadakn rekoleksi menyongsong hari raya Natal 2023. Rekoleksi yang berlangsung di Perpustakaan Widya Wahana didamping oleh Pastor Gabriel Madja, dihadiri kurang lebih oleh 22 prodiakon.

Asisten Imam demikian Pastor Gabriel menyebut para prodiakon sebagai tugas amat mulia. “Tidak semua umat bisa memegang Sakramen Ekaristi hanya imam dan prodiakon, maka sebagai prodiakon harus berbangga karena itu tugas yang amat mulia”, demikian ungkap Pastor Gabriel.

“Awam diperlukan untuk membantu dalam pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, menerimakan baptis dan membagikan komuni suci dan lain-lain. Pelayanan awam dapat diberi tugas melayani altar dan membantu imam serta diakon. Mereka dapat membawa salib, lilin, pendupaan, roti, anggur dan air. Mereka juga dapat diberikan tugas membagikan komuni sebagai pelayan tak lazim. Prodiakon atau asisten imam, dikenal gereja universal dengan sebutan minister extraordinarius atau pelayan tak lazim. Pelayan tak lazim atau kaum awam. Membawa ekaristi ke orang sakit adalah tugasnya imam, namun uskup menunjuk asisten imam dan diberikan wewenang untuk melakukan tugas tersebut. Maka prodiakon wajib mendapat pembekalan dan pembinaan berkala.”, tegas Romo Gabriel lebih lanjut.

Tema rekoleksi kali ini “Berjalan Bersama Melayani dengan Hati”. Tema ini terinspirasi dari tema AAP 2023 yaitu ‘Berjalan Bersama’. Berjalan bersama dalam konteks pelayanan. Hampir semua bacaan AAP 2023 mengajak kita berjalan bersama seperti yang diamanatkan oleh Sinode V Keuskupan Denpasar - Bangkit dan Bergerak Bersama Demi Terwujudnya Gereja Sinodal, Persekutuan, Partisipasi, dan Misi. Ini mengisyaratkan kita tidak dapat berjalan sendiri, namun berjalan bersama seluruh umat dari tingkat KBG sampai ke tingkat keuskupan.

Dasar Pelayanan - “Dasar pelayanan dengan hati adalah iman, harapan, dan kasih. Melayani berati bukti bahwa kita memiliki iman. Iman adalah dasar dari segala sesatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Jika iman itu tidak diseertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Melayani juga sebagai bukti bahwa kita berpengharapan. Hidup manusia bukan tanpa tujuan. Ada tujuan, tujuan akhir hidup kita adalah bersatu dengan Sang Pencipta dan hidup dalam kebahagiaan kekal. Ada cita-cita dalam kehidupan, karena ada cita-cita maka kita memiliki harapan. Harapan itulah yang harus menyemangati kita. Melayani membuktikan juga bahwa kita punya kasih. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi. Paulus mengatakan . Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, harapan, dan kasih dan yang paling besar diantaranya ialah kasih.” Pastor Gabriel menjelaskan dasar dari seluruh pelayanan sebagai umat khususnya tugas mulai sebagai Prodiakon.

Melayani dengan Hati - Dalam pemaparannya lebih lanjut Pastor Gabriel menekan bahwa melayani dengan hati hendaknya kita dapat menjadi garam, terang, dan ragi. “Sebagai garam (Mat 5 : 13) hidup kita harus berfaedah, membawa kebahagiaan, sukacita, dan disukai banyak orang. Sebagai terang hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga ( Mat 5 : 14). Menjadi teladan dan panutan. Sebagai ragi (Lukas 13: 20-21) – hidup yang menyenangkan, yang membangun, meneguhkan, mempersatukan dan menguatkan persekutuan dan kebersamaan. Hendaklah kegaita hal ini menjadi inspirasi dalam pelayanan kita yang membuat kita sungguh berarti dan dihargai. Tidak semua orang bisa memegang tubuh Kristus dalam hosti kudus,” kembali tegas Pastor Gabriel.

Spiritualitas Prodiakon - Selanjutnya Pastor Gabriel menjelaskan pula tentang spiritualitas prodiakon. “Seorang prodiakon jangan merasa terpaksa, tetapi lihat hal ini sebagai panggilan. Allah yang memanggil sehingga sebagai seorang prodiakon bertugas penuh pengabdian. Doa dan devosi harus menjadi bagian dari hidup. Rajin misa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, serta berbagi dan peduli menjadi penyemangat dalam menjalankan tugas sebagai asistem imam. Seperti kata Yesus, ‘Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyai hidup yang kekal’, demikian Pastor Gabriel menutup rekoleksi ini.

Sebelum berakhir para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan tugas prodiakon dalam pelayanannya. Beberapa dari peserta yaitu Pak Rudi, Pak Victor, dan juga Pak Petrus mengajukan pertanyaan. Di antaranya apakah diijikan untuk memberikan komuni pada umat di wilayah lain di luar paroki? Pastor Gabriel menegaskan bahwa tugas prodiakon diberikan oleh uskup untuk paroki sesuai dengan surat keputusan penugasan, kecuali dalam situasi darurat, di luar itu harus mendapat ijin uskup. Demikian juga tentang prodiakon wanita – di paroki Tuka belum ada, ini pun harus seijin uskup. Tentang masalah prodiakon yang tersandung masalah pribadi, Pastor Gabriel mengajak untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Tentang pemberian tanda salib di dahi anak-anak oleh prodiakon menjadi pertanyaan juga. Hal ini diijinkan asal tidak menggunakan tanda salib dengan menggerakan tangan seperti yang dilakukan oleh pastor.

Rekoleksi diakhir dengan penjelasan dan pembagian tugas para prodiakon pada Natal 2023. Bapak Yoseph wakil dari DPP-BPI dalam sapaannya mengharapkan agar rekoleksi ini menjadi suatu penyegaran dalam pelaksanaan tugas melayani, terutama kepada para lansia dan umat yang sedang sakit. (*ide)

Save BIG on our church!

GEREJA KATOLIK TRI TUNGGAL