Dari Sampah Menjadi Berkah - Tim Pengolahan Sampah

Dari Sampah Menjadi Berkah: Paroki Tuka Membentuk Tim Pengelolaan Sampah

Ide

10/7/20262 min read

Pembentukan tim tersebut dihadiri oleh Pembimas Katolik Provinsi Bali, Marini Tamba; perwakilan Pusdal Lingkungan Hidup Bali dan Nusa Tenggara, Putri dan Hendra; Pastor Paroki; utusan lingkungan; serta sejumlah komunitas yang berada di wilayah paroki, antara lain Seminari, LKSA, Klinik Astiti, dan WKRI. Tim inti selanjutnya melibatkan unsur PSE dan DPP Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan bagian dari tanggung jawab iman untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Dari kebiasaan sederhana memilah sampah di rumah, Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka ingin menumbuhkan gerakan yang lebih besar: mengubah sampah dari sesuatu yang dianggap masalah menjadi sesuatu yang dapat membawa manfaat dan berkat bagi kehidupan.

Sampah sering kali dipandang sebagai persoalan yang harus segera disingkirkan. Namun, bagi Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, sampah justru dapat menjadi awal dari sebuah gerakan kepedulian terhadap bumi. Semangat inilah yang mendorong paroki membentuk Tim Pengelolaan Sampah sebagai langkah awal untuk membangun budaya memilah dan mengelola sampah, mulai dari keluarga.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Pastor Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Romo Paskalis Nyoman Widastra, SVD. Ia berharap gerakan pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi umat dan lingkungan. “Sampah dari masalah menjadi berkah,” tegas Romo Paskalis.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Laudato Si’ yang mengajak manusia untuk mengambil bagian dalam merawat bumi sebagai rumah bersama. Marini Tamba, Pembimas Katolik Provinsi Bali, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.

“Kita patut turut bertanggung jawab merawat bumi. Merawat kehidupan dengan bertanggung jawab terhadap sampah yang kita buat,” tegas Marini.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Langkah pertama adalah mengubah pola pikir. Pengelolaan sampah tidak dapat dimulai ketika sampah sudah menumpuk, tetapi sejak dari sumbernya. Karena itu, memilah sampah perlu menjadi kebiasaan. Umat perlu mengenal jenis-jenis sampah dan memahami bagaimana sampah tersebut dapat dikelola atau dimanfaatkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya.

Pengelolaan sampah secara mandiri dari sumbernya menjadi salah satu langkah yang hendak dikembangkan di Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka. Gerakan ini diharapkan dapat dimulai dari umat, khususnya keluarga, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari rumah, kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat lingkungan dan paroki.

Sebagai langkah konkret, Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka membentuk Tim Pengelolaan Sampah. Tim ini diharapkan menjadi penggerak awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah dari tingkat paroki hingga keluarga. Kehadirannya menjadi tanda bahwa kepedulian terhadap bumi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui gerakan bersama.

PAROKI

TRITUNGGAL MAHAKUDUS TUKA

@copyrightparokituka