JANGAN KHAWATIR

Rekoleksi Prodiakon Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka 2022

ideyoedi

12/21/20222 min read

Selasa (20/12/2022), Prodiakon Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka mengadakan rekoleksi. Rekoleksi menjelang Natal ini diadakan di Perpustakaan Widya Wahana. Acara ini dihadiri kurang lebih 24 orang prodiakon. Berlangsung kurang lebih satu setengah jam, rangkaian rekoleksi berjalan dengan baik dan lancar.

Rekoleksi diberikan oleh Romo YB Nyoman Suryana, Pr. Romo yang panggilan akrabnya Romo Komang mengawali dengan menjelaskan terminologi kata prodiakon. Prodiakon berasal dari kata pro dan diakon. Pro yang artinya berpihak diakon berarti disuruh-suruh. Dapat artikan secara bebas bahwa prodiakon adalah mereka yang siap disuruh-suruh.

Ada tiga hal yang ditekankan oleh Romo Komang dalam pelayanan sebagai prodiakon. Pikiran, perkataan, dan perbuatan kita harus benar-benar dapat dijadikan teladan bagi orang lain. Inilah yang menjadi dasar pelayanan kita. Ditambah dengan mengikuti ekaristi harian kita pasti akan dikuatkan.

Dalam pelayanan tugas harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya mengenai hasil biarlah Tuhan yang menentukan. Kita harus mengenal inti dari pelayanan sehingga tidak timbul ambisi pribadi, kecewa, tidak bersemangat, dan pada akhirnya meninggalkan pelayanan. Jika itu terjadi, berarti pelayanan itu telah gagal.

GEREJA KATOLIK TRI TUNGGAL

Save BIG on our church!

Diakhir rekoleksi Romo selain mengingatkan kembali janji saat kita dibaptis, Beliau juga menyadarkan kita akan tugas sebagai orang tua yang menjadi teladan dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Jangan sampai anak-anak kita hanyut terbawa godaan-godaan jaman yang membuat iman dan tingkah laku semakin menyimpang. Merusak otak dan juga merusak kehidupan sosial dalam keluarga. Dalam film Narkolema, dijelaskan bahwa otak kita dapat rusak karena pengaruh narkotika lewat mata. Mari menjaga anak-anak kita agar tetap memiliki iman, harapan, dan kasih yang dikehendaki oleh Tuhan. (*ideyoedi)

Janganlah khawatir. Itulah pesan Injil Matius 6, khususnya di ayat 33 dan 34 yang mendasari pelayanan sebagai prodiakon. Jangan katakan tidak bisa, namun usahakanlah semaksimal mungkin. Jika sebagai prodiakon, kita telah melakukan pelayanan yang maksimal maka berkat akan mengalir kepada anggota keluarga kita.

Dalam pemaparannya Romo Komang memutarkan beberapa film yang menggambarkan pelayanan yang harus kita berikan kepada sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Santa Theresia dari Calcuta juga menjadi contoh pelayan. Seorang pelayan yang baik tidak memusatkan perhatian hanya kepada umat yang pandai atau berkecukupan, tetapi justru kepada umat yang kurang pandai, yang bermasalah, kurang mendapat perhatian dan kasih dari keluarganya atau mereka yang jauh dari imannya.