Sukacita Pendamping SEKAMI St. Tarsicius Tuka di Pancasari

Pendamping SEKAMI St. Tarsicius Tuka bersukacita bersama di Pancasari

Romo Dr. Paskalis Nyoman Widastra, SVD

1/28/20244 min read

Acara dibuka dengan doa oleh pembimbing rekoleksi, Rm. Paskalis Nyoman Widastra, SVD. Berangkat dari pengalaman Yesus bersama para murid dan juga kisah kasih Yesus bersama orang-orang di Daerah Galilea, pembimbing mengajak para peserta rekoleksi untuk melihat seluruh perjalanan Yesus bersama para murid-Nya dalam melaksanakan karya pelayanan di tengah-tengah orang Yahudi. Yesus berjumpa dengan banyak orang. Yang paling penting tentunya perjumpaan Yesus dengan orang-orang kecil khususnya dalam diri anak-anak.

Yesus melakukan semuanya ini karena dorongan kasih Bapa dan juga karena belas kasih-Nya yang begitu dalam terhadap banyaknya kebutuhan dan penderitaan yang dialami oleh jemaat. Mereka ibarat domba tanpa gembala. Maka dengan semangat kasih dan pelayanan Yesus memberikan hidup-Nya untuk mereka tanpa melupakan keterlibatan para murid. Yesus ingin agar mereka melihat dan menyaksikan secara langsung bagaimana Yesus melaksanakan tugas pelayanan dengan tulus, rendah hati dan penuh sukacita.

Nilai dan semangat pelayanan inilah yang juga harus dimiliki oleh para pendamping SEKAMI. Mereka harus melihat kembali perjalanan mereka sebagai pendamping yang sudah sekian lama berkecimpung dengan dunia anak-anak dengan segala suka duka yang dialami. Maka pada kesempatan ini mereka juga berkenan berbagi sejarah panggilan, dan pengalaman tentang motivasi dan juga segala rintangan serta suka duka yang mereka rasakan untuk mendampingi perjalanan iman anak-anak di paroki Tuka.

Sukacita dan kegembiraan harus dirasakan oleh semua orang. Sukacita dan kegembiraan ini bukan saja menjadi hak dan milik anak-anak tetapi juga orang dewasa. Apalagi setelah penat dengan tugas rutin baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pendamping anak-anak. Hal ini sungguh dirasakan oleh para pendamping SEKAMI (Serikat Kepausan Misioner Indonesia) St. Tarsicius Paroki Tritunggal Mahakudus. Dengan tekat keluar dari rutinitas, para pendamping yang sebagian besar terdiri dari para ibu-ibu, didamping oleh Romo Paroki bergegas menuju Bedugul. Sasaran terakhir adalah Pondok SVD Pancasari.

Namun mereka bukan hanya sekedar keluar rumah, tetapi mereka pergi untuk menyegarkan kembali semangat dan motivasi mereka untuk mendampingi anak-anak dalam kegiatan yang biasa mereka lakukan di paroki. Setelah mendapat restu dari keluarga (suami) mereka meninggalkan halaman paroki pada Minggu pagi, 28 Januari 2024, pukul 08.00. Puji Tuhan mobil yang mereka tumpangi disponsori oleh donatur yang dengan sukarela berbagi demi kebahagiaan dan kegembiraan para ibu pendamping.

Setelah persiapan yang mantap jauh hari sebelumnya, mereka tidak lupa membawa perbekalan yang lebih dari cukup. Ada timus, bantal dan jenis makanan lain, menjadi teman seperjalanan walaupun mereka tidak sempat menikmati di jalan. Makanan yang berlimpah dan lebih dari cukup mengajak mereka juga berbagi dengan para karyawan di Pancasari. Setelah menikmati snack mereka mulai mempersiapkan diri mengikuti acara rekoleksi yang diawali dengan sambutan pembuka dari ibu ketua pendamping SEKAMI, Ibu Liana (Ibu Lilik).

Save BIG on our church!

GEREJA KATOLIK TRI TUNGGAL

Semuanya berangkat dari rasa keprihatinan terhadap iman anak yang perlu mendapat pendidikan informal. Mereka ingin agar anak-anak mendapatkan sesuatu yang tidak boleh hilang dalam tradisi gereja Katolik. Maka dengan semangat pelayanan mereka memberi diri untuk anak-anak. Ada yangberangkat dari tidak peduli, cuek dan bahkan tidak suka, tetapi pada akhirnya setelah melihat dari dekat interaksi, komunikasi mereka dengan anak-anak dan juga para pendamping akhirnya mereka menjadi bagian dari pembina anak-anak. Mereka juga menitipkan harapan untuk para ketua lingkungan untuk memberi perhatian terhadap Sekami di paroki.

Setelah bersharing (berbagi pengalaman), rekoleksi dipuncaki dengan perayaan Ekaristi, yang menjadikanMusa dan Yesus sebagai contoh dalam pelayanan. Musa memberikan diri kepada Tuhan dengan segala keterbatasannya. Ia menyerahkan diri kepada kuasa Tuhan dan akhirnya bisa menghantarkan umat ke Tanah Kanaan. Ia melakukan semuanya ini dalam keyakinannya akan kehadiran Tuhan yang selalu ada di tengah umat. Sedangkan dalam diri Yesus, kuasa Allah nyata dalam kata dan tindakan Yesus. Namun Ia tetap melaksanakan tugas pelayanan-Nya dengan rendah hati dan setia.

Setelah perayaan Ekaristi acara dilanjutkan dengan santap siang bersama. Dengan nasi campur khas Pancasari yang dipesan lewat karyawan di kebun mereka menikmati makan siang sederhana dengan sukacita. Terakhir sebagai acara puncak mereka bergembira dengan acara tangkap bola. Yang berhasil paling banyak dapat tangkap bola mendapat hadiah yang telah disiapkan oleh ‘ketua panitia’ yang tidak lain ketua Pembina SEKAMI. Juara pertama diraih oleh Kak Sinta, juara kedua oleh Kak Rini, dan juara ketiga diraih oleh Kak Tria.

Seharusnya mereka mau melanjutkan kegembiraan mereka di Blooms Garden yang ada di kawasan Bedugul, Candikuning, Baturiti, namun karena hujan, akhirnya mereka dengan berat hati harus pulang kembali ke rumah. Namun demikian, rasa penat mereka sekurang-kurangnya sudah terobati sehingga mereka bertekat kembali untuk tetap setia dalam memberikan pelayanan kepada anak-anak di paroki tercinta, Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka.